Cara Membuat Search Engine Di Blog Sendiri


            Tentu kita semua sudah tahu apa itu Search Engine (hari gini gak tahu apa itu search engine? cape' deeh... :'( . Search Engine adalah ... bla.. bla..bla.. dst.

            Saat ini Search Engine tidak bisa dipisahkan dalam dunia internet. Dengan Search Engine kita bisa mencari tahu tentang suatu hal yang kita inginkan sesuai dengan keyword yang kita ketikkan dan juga bla...bla...bla..... Udah agh penjelasannya, yang mau dibahas disini adalah bagaimana caranya membuat search engine di blog kita sendiri biar lebih mempermudah Reader buat nyari yang dia butuhin di blog kita. Caranya sangat mudah, yaitu:

  1. 1. Login ke blogger terus klik Layout terus pilih Page Elements atau klik Tata Letak lalu Tambah Gadget ditempat yang kamu suka. Plus jangan lupa centang kotak kecil (Expand Template Widget) yang ada di kanan atas kotaknya ya.
  2. 2. kemudian pada layar baru yang muncul pilih HTML/Javascript kemudian copy/paste script/kode berikut ini di dalam kolom content.

<form action="http://nama-blogmu.blogspot.com/search"
method="get"> <input class="textinput" name="q" size="30" type="text"/> <input value="search" class="buttonsubmit" name="submit" type="submit"/></form>

            Ganti nama-blogmu dengan nama blog kamu. Angka 30 yang tertulis di antara HTML diatas menunjukkan panjang kotak (text box) semakin besar nominal angkanya maka semakin panjang textbox-nya.

            Kalo udah,,, comment d blog aq masalah hasillnya yach... ;)

Kaya Tidak Berarti Bahagia


Setiap orang, pasti mendambakan anak, istri, suami yang berkepribadian mengagumkan. Mendapat kesuksesan dunia: fasilitas hidup nyaman, rumah yang luas, kendaraan yang bagus, harta yang banyak, status social yang tinggi, disenangi kawan, disegani lawan, dan lain-lain. Juga sukses akhirat: memperoleh ridha Allah, dibebaskan dari siksa neraka dan masuk ke dalam surga dengan sejahtera.

Namun, sangat disayangkan, banyak orang dengan dalih ingin meraih keberhasilan dan mengangkat derajat keluarga seseorang pergi ke tempat-tempat yang jauh dengan menelantarkan keluarganya. Mengerjakan aktivitas yang tak berkaitan dengan tujuan yang dicita-citakan, selain isapan jempol dan permainan angan. Mereka mungkin lupa bahwa sesungguhnya rahasia kesuksesan itu ada di tengah-tengah keluarga.

Banyak orang dengan dalih ingin mengangkat derajat keluarga pergi ke tempat-tempat jauh dengan menelantarkan keluarganya. Mereka mungkin lupa bahwa sesungguhnya rahasia kesuksesan itu ada di tengah-tengah keluarga.

Untuk itu, setiap suami dan istri, semestinya memberikan perhatian yang tinggi terhadap keluarga; Menggali sebab-sebab yang mempengaruhi kemampuan keluarga menghadiahkan kesuksesan yang kepada semua anggotanya; mengasah ketajamannya; serta memupuk kesuburannya.

1.    Orientasi
Tidak semua orang mempunyai orientasi yang sama dalam membangun keluarganya. Ada yang mendasarinya dengan orientasi duniawi: kesenangan, kekayaan, kekuasaan, keturunan dan kecantikan/ketampanan. Ada pula yang melandasi dengan orientasi ukhrawi. Yang pertama tidak akan mendapat bagian apa-apa di akhirat. Sementara yang kedua, akan merengkuh kebahagiaan dunia dan akhirat.

Allah SWT menerangkan, “Barang siapa yang mengharapkan kehidupan dunia dan perhiasannya maka Kami akan penuhi keinginan mereka dengan membalas amal itu di dunia untuk mereka dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Mereka itulah orang-orang yang tidak meraih apa-apa ketika di akhirat melainkan siksa neraka dan lenyaplah semua amal yang mereka perbuat selama di dunia dan sia-sialah segala amal usaha mereka” (Qs. Hud 15-16)

Keluarga dengan orientasi ukhrawi adalah keluarga yang terdiri dari pribadi-pribadi yang tidak menautkan tujuan di dalam hatinya selain kepada surga dan ridha Allah. Dimulai sejak akan menikah; ketika memilih pasangan, pada saat melangsungkan pernikahan hingga setelah terbentuk sebuah rumah tangga; berperan sebagai suami, istri dan orang tua. Sehingga, segala bentuk pemikiran, kata maupun perbuatannya adalah wujud dari harapan yang besar akan perjumpaan dengan Allah.

Keluarga dengan orientasi ukhrawi adalah keluarga yang terdiri dari pribadi-pribadi yang tidak menautkan tujuan di dalam hatinya selain kepada surga dan Ridha Allah SWT.

Kekhusyukan dalam hal ini menjadi teramat urgen. Karena hanya dengan hati yang khusyuk sajalah seseorang dapat menjaga keistiqamahan dalam berorientasi. Bahkan dalam kondisi-kondisi ketika dihantam musibah yang mengguncangkan jiwa sekali pun, orang yang khusyuk senantiasa tetap sadar bahwa orientasi hidupnya hanyalah Allah SWT.

Firman Allah, “Yaitu, orang-orang yang apabila ditimpa musibah ia mengucapkan: ‘inna lillahi wa innaa ilaihi roojiuun.” (Qs. Al-Baqarah156).

Lalu, bagaimanakah jika kesadaran untuk menjadikan Allah sebagai orientasi dalam berkeluarga itu muncul setelah berkeluarga? Mulailah sekarang juga untuk memperbaikinya. Mengikhlaskan apa saja yang telah berlalu, dan berharap kepada Allah terhadap setiap hal yang diusahakan untuk keluarga anda.

2.    Cinta
Allah telah mengabarkan kepada kita, bahwa cinta tertinggi setiap mukmin adalah kepada Allah, Rasul dan jihad di jalan-Nya. Setelah itu, baru cinta kepada orang tua, suami, istri, anak, saudara seiman dan lain-lain.

Firman Allah, “Katakanlah, jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum kerabat, harta benda yang kalian miliki, dan perniagaan yang kalian khawatiri kerugiannya, itu lebih kalian cintai dari pada Allah, Rasul dan berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah hingga Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim” (Qs. At-Taubah 24).

Untuk menghadirkan cinta tertinggi di lubuk sanubari, setiap pasangan suami-istri harus berusaha menjaga perasaan cinta di dalam diri dan keluarganya. Mampu menjaga ikatan cinta di antara mereka dan tahu hal-hal yang dapat kian menumbuhsuburkan perasaan cinta di dalam hatinya. Karena kekuatan cinta suami istri turut berperan dalam mengokohkan cinta kepada Allah SWT.

Setiap pasangan suami-istri harus berusaha menjaga perasaan cinta di dalam diri dan keluarganya, karena kekuatan cinta suami istri turut berperan dalam mengokohkan cinta kepada Allah SWT.

Seorang mantan aktris yang kini aktif di dunia parenting islami mengungkapkan apa yang menurutnya dapat menyuburkan cinta suami kepada istri dan sebaliknya, “Setiap suami akan merasakan cinta kepada istrinya kian menguat bukan karena kelihaian syahwat, melainkan karena kelapangan hati istri dalam menerima nafkah dan rezeki, kepandaian menjaga harga diri suami dengan pergaulan yang suci dan baik –terutama dalam pergaulan dengan lawan jenis– dan karena keterampilan serta kesabarannya dalam mendidik dan mengasuh buah hati mereka.”

Sungguh, amat besar pahala yang dijanjikan kepada istri yang ikhlas dalam mengurus rumah tangga dan anak-anaknya. Dalam sebuah riwayat Rasul SAW bersabda: “Siapa di antara kalian yang ikhlas tinggal di rumah untuk mengurus anak-anak dan melayani segala urusan suaminya, maka ia akan memperoleh pahala yang kadarnya sama dengan pahala para mujahidin yang berjuang di jalan Allah” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Sementara istri,” lanjutnya, “bertambah kuat cintanya kepada suami bukan karena jumlah uang belanja yang tak ada batasan atau pemberian hadiah permata, baju, sepatu, berlian, zamrud, dan emas tidak berputusan dan berkeliling dunia kapan saja bisa. Tidak! Banyak ratu-ratu menjalin cinta dengan lelaki biasa bukan karena pemberian dan jaminan raga, melainkan karena kelembutan hati dan ketertimangan diri.”

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah menyebutkan ada tiga faktor yang menyebabkan tumbuhnya cinta:
1.         Sifat/kelebihan yang dimiliki oleh seseorang sehingga ia kagum dan jatuh cinta padanya,
2.         Perhatian sang kekasih terhadap sifat-sifat tersebut, dan
3.         Pertautan antara seseorang yang sedang jatuh cinta dengan orang yang dicintainya.

Di atas semua itu, keshalihan dan kedekatan dengan Sang Maha Dekat, akan membuat daya “magnet” seorang suami/istri bertambah kuat. Karena keshalihan dan kedekatan kepada sang Khaliq akan mengundang cinta-Nya. Dan manakala Allah telah mencintai kita, maka akan mencintai kita pula segenap makhluk dengan ijin-Nya.

Cinta seorang istri kepada suaminya, atau suami kepada istrinya, bukan lagi semata karena ikatan perkawinan. Karena cinta yang tidak dibangun di atas pondasi mahabatullah, hanya akan menjerumuskan ke dasar jurang kelalaian dan kenistaan.

Cinta seorang istri kepada suaminya, atau suami kepada istrinya, bukan lagi semata karena ikatan perkawinan. Namun, ada dan tidaknya hal-hal yang menjadi sebab datangnya cinta Allah sebagai alasan. Sehingga, kadar cinta suami/istri akan bertambah dan berkurang, seiring meningkat dan menurunnya kualitas ibadah dan keimanan pasangannya. Keduanya senantiasa menyadari, bahwa cinta yang tidak dibangun di atas pondasi mahabatullah, hanya akan menjerumuskan ke dasar jurang kelalaian dan kenistaan.
3.    Nafkah
Meski bukan segalanya, nafkah berupa materi tetap menjadi sesuatu yang tidak bisa diremehkan begitu saja. Dalam sebuah penelitian disertasi doktoral, Jan Andersen menemukan 70% responden mengakui bahwa keuangan merupakan penyebab perceraian. Karena keluarga tak mungkin bisa berjalan tanpa ada nafkah yang menggerakkan roda perekonomiannya. Materi bagi keluarga-keluarga muslim menjadi sarana pemenuhan tuntutan syariat, menjaga ‘iffah (kemuliaan diri) dari meminta-minta, serta sebagai pembatas agar tidak dekat kepada kekafiran.

Islam mewajibkan bagi orang yang mampu untuk memberi nafkah. Allah Ta’ala berfirman, “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang telah Allah berikan kepadanya.” (Qs. Ath-Thalaq 7).

Bahkan Rasul SAW mengingatkan dalam haditsnya: “Seseorang itu cukup berdosa bila ia menyia-nyiakan orang yang harus diberi belanja.” (HR. Abu Daud dan lain-lain).

Tidak harus banyak, asalkan halal. Banyak sedikit sangat relatif. Namun, kehalalan nafkah yang diberi, tidak bisa ditawar-tawar. Mengabaikan kehalalan dapat berakibat sangat fatal bagi semua pribadi di dalam keluarga: tidak diterima doa dan ibadahnya, mendorong berperilaku menyimpang, menghalangi ketaatan hingga menjadi penyebab terlemparnya ke dalam Jahanam.

Mengabaikan kehalalan nafkah dapat berakibat sangat fatal bagi semua pribadi di dalam keluarga: tidak diterima doa dan ibadahnya, mendorong perilaku menyimpang, menghalangi ketaatan hingga jadi penyebab terlemparnya ke dalam Jahanam.
Menenteramkan sungguh kalimat-kalimat yang mengalir dari lisan istri-istri sahabat dan generasi salafus shalih setiap kali mengantarkan suami-suami mereka yang hendak mengais rezeki: “Suamiku, bertakwallah kepada Allah terhadap apa yang akan engkau nafkahkan kepada kami. berikanlah kepada kami hanya nafkah yang halal. Karena perihnya kelaparan dapat kami tahan, sementara panasnya neraka yang memanggang tak mungkin membuat kami dapat bertahan.”

4.    Berbuat Adil
Adil berarti menempatkan sesuatu pada tempatnya. Lawan adil adalah zalim. Dan ukuran yang paling tepat untuk menilai adil atau zalimnya seseorang adalah Al-Qur’an. Karena hanya Al-Qur’an sajalah yang tidak mengandung perselisihan di dalamnya. Sehingga tidak akan membuat siapa pun bingung harus bersikap seperti apa. Berbeda sangat jauh dengan hukum/aturan apa pun buatan manusia yang mudah diinterpretasikan sekehendak hatinya.

Adil tidak terbatas pada suami istri harus memenuhi setiap kewajibannya sebagai suami terhadap istri maupun sebagai istri terhadap suami, juga kewajiban keduanya terhadap anak-anak mereka. Akan tetapi adil, meliputi pemenuhan terhadap semua perintah dan larangan Allah yang mengenai diri setiap pribadi di dalam keluarga.

Suami yang adil adalah, yang taat kepada Allah, melaksanakan tugas memimpin, menafkahi dan mendidik istri dan anak-nya. Istri yang adil adalah yang memenuhi semua perintah Allah SWT dan larangan-larangannya, taat, menjaga harta, kehormatan diri dan suaminya, dan mengasuh secara baik anak-anaknya.

Rasul SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah memiliki hak atas dirimu yang harus engkau tunaikan, dirimu memiliki hak yang harus engkau tunaikan, dan keluargamu memiliki hak atas dirimu yang harus engkau tunaikan. Maka tunaikanlah hak-hak masing-masing dari semua itu.” (HR. Bukhari).
Rasul SAW juga menyebutkan, bahwa ada tiga hal yang dapat menyelamatkan. Di antara ketiga hal itu adalah: “Berbuat adil dalam keadaan ridha (senang) maupun dalam keadaan benci”
Tidak seorang pun yang tidak memerlukan nasihat orang lain. Suami, membutuhkan nasihat istrinya. Istri mengharapkan bimbingan suaminya….

5.    Saling Menasehati
Tidak seorang pun yang tidak memerlukan nasihat orang lain. Suami, membutuhkan nasihat istrinya. Istri mengharapkan bimbingan suaminya. Anak-anak merindukan untaian lembut nasihat kedua orang tuannya. Orang tua, terkadang perlu mendengar pendapat anak-anaknya.

Ingat apa yang dilakukan Ibunda Khadijah terhadap Rasulullah SAW sesaat setelah turun wahyu yang pertama? Ketika sekujur tubuh Rasulullah SAW menggigil karena khawatir akan keselamatan dirinya, wanita agung itu hadir dengan nasihat-nasihat yang menenteramkan jiwa. “Bergembiralah dan tenteramkanlah hatimu. Demi Allah yang menguasai diriku”

“Allah SWT tidak akan mengecewakanmu. Engkau orang yang sentiasa berusaha untuk menghubungkan tali persaudaraan, selalu berkata benar, menyantuni anak yatim piatu, memuliakan tamu dan memberi bantuan kepada setiap orang yang ditimpa kesusahan.”

Rasul SAW melukiskan kesannya yang mendalam: “Khadijah beriman kepadaku ketika orang-orang mengingkari. Dia membenarkan aku ketika orang-orang mendustakan. Dan dia memberikan hartanya kepadaku ketika orang-orang tidak memberiku apa-apa. Allah mengaruniai aku anak darinya dan mengharamkan bagiku anak dari selain dia” (HR. Imam Ahmad).

Nasihat (dengan ijin Allah), dapat membuat yang lupa menjadi ingat. Yang tersesat kembali selamat. Dan yang lemah jadi bersemangat.
Demikian indah kiasan yang Allah berikan bagi pasangan suami istri. Dalam surat Al-Baqarah 187 Allah menyebut: “Mereka (istri-istrimu) itu adalah pakaian bagimu dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka!”

Apa saja yang dilakukan oleh pemilik pakaian terhadap pakaian kesayangannya? Tentu, bukan hanya memakai secara terus menerus sampai pakaian tersebut usang, bau dan sobek sana sini. Orang yang bijak, selain memakai ia pun akan berpikir untuk menjaga agar pakaiannya tidak koyak, senantiasa dalam keadaan halus, harum dan wangi. Karenanya, setiap kali pakaiannya itu kotor, ia akan memilihkan detergen yang terbaik untuk mencuci. Setelah kering, pakaian itu akan diseterika dan diberi wewangian. Lalu, diletakkan di tempat yang terbaik di dalam lemari.

Mereka akan selalu saling menasehati untuk menetapi kebenaran dan kesabaran, sebagai wujud kasih sayang dan perhatian yang mendalam.

Maka, demikian pula yang seharusnya dilakukan seorang suami/istri terhadap pasangannya. Ia akan selalu menjaga kebersihan jiwa dari segala hal yang mengotorinya. Menghiasi dengan wangi akhlak yang terpuji. Dan membentengi dari ancaman apa pun yang dapat merusakkan hati. Mereka akan selalu saling menasehati untuk menetapi kebenaran dan kesabaran, sebagai wujud kasih sayang dan perhatian yang mendalam. Sebelum segalanya terlambat, dan taubat pun tiada lagi bermanfaat.

Semoga keluarga-keluarga kita menjadi keluarga yang mulia dan dimuliakan. Dipenuhi cahaya iman dan ketakwaan. Dan ditaburi cinta yang tak berkesudahan.

Cara Membangun Keluarga Harmonis


Keluarga bahagia adalah dambaan semua orang. Tentusaja untuk membangun keluarga bahagia dan harmonistidak mudah, karena pada dasarnya dua individu atau lebihyang menjadi anggota keluarga memiliki kehendak dankarakter beda. Logikanya adalah kalau dua zat yang jelas-jelas berbeda secara fisik dipaksa untuk disatukan,tetap saja perbedaannya dapat dikenali dengan jelas.

Kalau dua zat tersebut memiliki sifat dasar samabukankah bisa disenyawakan dengan baik. Misalnya duacawan air, yang pertama berwarna merah yang satu lagiberwarna kuning. Keduanya dicampur dalam sebuah bejana,maka sifat asli keduanya akan hilang dan berubah menjadiwarna lain. Nah, warna lain ini yang menjadi model keluargahermonis dengan meninggalkan egoisme masing-masingindividu sebelum menikah

Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk membangun keluarga yang harmonis :

1.        Buatlah Komitmen Jangka Panjang
Komitmen jangka panjang berarti tujuan bersama antara suamidan istri. Berjanjilah bahwa anda berdua akan mewujudkabsuatu dream masa depan untuk kebahagiaan “abadi”. Apatujuan jangka panjang anda berdua? Misalnya anda danpasangan berkomitmen akan mewujudkan keluarga bahagiadengan anak-anak yang sukses dalam pendidikan. Mungkinyang lain ingin membukukan keabadian keluarga dalam sebuahbuku mamoar dan seterusnya.

2.        Saling Percaya
Membangun kepercayaan bukan hal yang mudah, apalagikalau diantara pasangan pernah ada kejadian yang mengganjaldiantara keduanya. Pun kalau pernah ada kejadian yangmencederai kepercayaan rumah tangga, berusahalahmembangun kembali dengan cara yang anda sepakatibersama. Ingatlah bahwa tidak semua individu selalu mulusdalam membangun citra dirinya, sehingga kekhilafan yangterjadi karena kondisi eksternal perlu ditoleransi untuk segeradicari solusinya.

3.        Terbuka Untuk Curhat
Suami istri juga sahabat yang bisa dijadikan teman curhat.Apabila istri/suami melakukan curhat, maka pasangannyaharus mendengarkan. Dengan demikian akan terjalinkomunikasi di antara keduanya. Walaupun curhatkadang-kadang membahas hal-hal remeh, tetapi momen inijuga baik untuk membina keharmonisan keluarga. Bagaimanadengan anak? Kadang-kadang kita melupakan curhatanak-anak kita, padahal hal ini sama pentingnya. Kalau anakada keinginan curhat dengan orang tuanya, kita wajibmendengarkan karena dia juga memerlukan media curhat yangsehat dan representatif. Ingat, apabila keinginannya tidakmendapatkan respon positif dari orang tua, bisa jadi merekaakan melakukannya dengan cara diluar kontrol.

4.        Saling Memaafkan Dan Beroriantasi Solusi
Yang pasti kita bukan malaikat yang tidak akan melakukan kesalahan. Kesalahan dan kekhilafan sangat mungkin terjadidiantara suami dan istri. Yang penting adalah segeramenyadari akar permasalahan, saling memaafkan dan mencarisolusi untuk mengembalikan kehangatan hubungan suami-istri.Jangan ada kekerasan hati, tetapi diantara keduanya salingmemaafkan atau minimal salah satu diantara mereka ada yangberlunak hati untuk memaafkan.
5.        Saling Memberi Hadiah Pada Momen Khusus
Anda pasti merasa happy apabila pasangan memberikanhadiah pada momen istimewa, hari ulang tahun, ulang tahunperkawinan, promosi dan seterusnya. Hadiah adalah wujudapresiasi terhadap pasangannya. Dalam pemberian hadiahtidak akan dipermasalahkan nilainya, tetapi ketulusan hati danapresiasi menjadi nilai yang sangat tinggi. Dengan hadiahkehangatan hubungan suami istri akan tetap terjaga.

6.        Berdua Pada Saat Istimewa
Saat berdua biasanya sangat sulit didapatkan apabila keluargasudah memiliki anak, karena mereka menyita waktu yangcukup banyak. Pun demikian, momen itu masih tetap diciptakanwalaupun intensitasnya agak sulit. Tetap saja usahakanmomen ini ada, apakah sebulan sekali atau pada ulang tahunperkawinan. Tentu sangat indah mengenang saat pertamaberkenalan, pacaran dan seterusnya, seolah hal ini masih adawalaupun sudah menjadi suami istri.

7.        Kalimat Sakti
Buatlan pasangan anda senang dengan kalimat sakti. Kalimatsakti bisa mermacam-macam ssuai dengan karakter keluarga.Bisa “I love you”. “I miss you”. “You are my hero” danseterusnya. Kalimat sakti menjadi sangat special pada saatpasangan sedang berjauhan atau menjalankan tugas luar kotadalam jangka waktu tertentu.

Trik Agar Tercipta Keluarga Yang Harmonis


            Berikut ini adalah beberapa trik untuk membuat keluarga dan rumah tangga yang bahagia dengan pasangan kita suami atau isteri sayang dan cinta kepada kita :
1. Jujur Apa Adanya dan Terbuka Pada Keluarga
2. Ciptakan Kondisi Yang Menyenangkan
3. Tidak Emosi dan Banyak Menuntut
4. Mengutamakan Kebersamaan Keluarga
5. Membuat Komitmen Jangka Panjang
6. Bijak dan Tegas Dalam Menghadapi Masalah
7. Keluarga Yang Soleh dan Memegang Teguh Agama
8. Perhatian Penuh Ke Anak dan Masa Depannya
9. Hidup Sederhana dan Tidak Mengejar Harga Semata
10. Peka Pada Lingkungan Sekitar dan Hidup Bersosial
11. Tidak Membawa Masalah Kantor Ke Rumah
12. Membiasakan Gaya Hidup Sehat Pada Keluarga
13. Saling Membantu dan Tolong Menolong
14. Tidak Otoriter dan Mengutamakan Musyawarah
15. Memilih Lokasi Tempat Tinggal Yang Baik
16. Menjalin Ikatan Silaturahmi Keluarga Dengan Baik

Keluarga bahagia adalah dambaan semua orang. Tentusaja untuk membangun keluarga bahagia dan harmonistidak mudah, karena pada dasarnya dua individu atau lebihyang menjadi anggota keluarga memiliki kehendak dankarakter beda. Logikanya adalah kalau dua zat yangjelas-jelas berbeda secara fisik dipaksa untuk disatukan,tetap saja perbedaannya dapat dikenali dengan jelas.

Kalau dua zat tersebut memiliki sifat dasar samabukankah bisa disenyawakan dengan baik. Misalnya duacawan air, yang pertama berwarna merah yang satu lagiberwarna kuning. Keduanya dicampur dalam sebuah bejana,maka sifat asli keduanya akan hilang dan berubah menjadiwarna lain. Nah, warna lain ini yang menjadi model keluargahermonis dengan meninggalkan egoisme masing-masingindividu sebelum menikah

Keluarga Harmonis


      A.    Apa Itu Keluarga Harmonis?
“Sebuah keluarga dimana setiap anggota  keluarga  memiliki  hubungan  yang  setara  satu  sama  lain,  merasa  nyaman dalam berinteraksi dan berkomunikasi,  saling  mendukung  dan tidak menyakiti serta dapat mendorong tiap anggota keluarga tumbuh dan berkembang dengan baik.”

            Keluarga harmonis merupakan tanggungjawab suami-isteri, bukan hanya isteri ataupun suami saja.  Keluarga bisa harmonis, suami-isteri dapat rukun jika masing-masing mensyukuri apa yang ada pada pasangannya.  Masalah tidak ada kecocokan 100 % merupakan hal yang biasa karena suami-isteri adalah dua orang yang berbeda, yang dibesarkan oleh keluarga yang berbeda, untuk itu diperlukan saling pengertian kedua belah pihak agar dapat menyesuaikan diri. Wanita harus dapat membuat pasangannya 'merasa' dibutuhkan secara moril, bukan secara materi, janganlah terlalu berharap banyak akan pasangan kita, selagi dia tidak mampu.

            Tidak ada yang namanya kodrat perempuan dibawah suami. Suami - isteri sejajar, mitra yang saling bersatu padu menjalankan bahtera rumah tangga. Keputusan diambil berdasarkan musyawarah mufakat dan pembagian tugas rumah tangga dibagi rata dan saling bertanggungjawab. Suami-isteri ibarat puzzle, potongannya saling melengkapi satu sama lain. Apabila ada potongan yang tidak pas atau hilang maka puzzle tidak akan lengkap, demikianlah rumah tangga itu.
Suami-isteri perlu meluangkan waktu bersama seperti re-honeymoon, atau berjauhan untuk sementara dengan demikian akan timbul rasa kangen satu sama lain saat berjauhan.

            Rumah tangga yang sudah tidak harmonis, tidak seharusnya menjadi tanggungjawab istri untuk mengharmoniskannya kembali. Jika seorang ibu berpikir demikian karena naluri keibuan merasa tidak rela anak-anak harus menanggung akibat dari kekacauan rumah tangga yang seharusnya bisa kita kendalikan dengan baik. Kalau ketidak cocokan itu memang sudah tidak dapat  diperbaiki lagi, dan berpisah dianggap jalan yang terbaik, lebih baik berpisah dari pada anak dibesarkan dalam keluarga yang tidak harmonis, anak-anak berhak dibesarkan dalam kedamaian.

            Perceraian tidak selalu berakibat buruk, apalagi kalau setelah bercerai hubungan ortu masih tetap baik. Anak akan tetap merasakan kasih sayang dan akan belajar menerima kenyataan tanpa merasa terluka.

      B.     Karakteristik Keluarga Harmonis
1.        Diikat  dalam  suatu  tali  perkawinan,  hubungan darah (kelahiran) atau pengangkatan anak.
2.        Ada  tanggung  jawab  kepada  kepada  Tuhan Yang Maha Esa.
3.        Ada  keyakinan  atau  nilai-nilai  yang  dianut bersama sebagai nilai-nilai keluarga.
4.        Ada ikatan batin atau perasaan antar  sesama anggota keluarga.
5.        Ada tanggung jawab atau peran sebagai  anggota  keluarga yang  harus  dipenuhi dan dijalankan sebagai bagian  dari kehidupan berkeluarga.
6.        Ada hubungan (interaksi) antar anggota keluarga yang saling menghargai  dan  menghormati  satu sama lain.

      C.    Manfaat Keluarga Harmonis
1.        Anggota  keluarga  merasa  nyaman, aman dan terlindungi, punya rasa rasa memiliki dan keterlibatan sebagaisebuah keluarga.
2.        Keluarga dapat mencapai tujuan keberadaan sebuah keluarga yang diinginkan atau diharapkan.
3.        Anak-anak dapat tumbuh dan berkembang  dengan  baik  secara fisik, perasaan, kemampuan berpikir,  kemampuan  berhubungan dengan orang lain.
4.        Keluarga yang harmonis dapat membantu  terciptanya  kehidupan masyarakat yang baik dan sejahtera.

      D.    Membangun Keluarga Harmonis
1.        Diskusikan  tujuan  keluarga  yang akan dibina dan ingin dicapai bersama antara suami-isteri.
2.        Bangunlah landasan spiritual atau nilai-nilai  dasar  keluarga yang dianut pasangan dan anggota keluarga lain.
3.        Ciptakan suasana saling mendukung dalam  kondisi  apa  pun termasuk saat ada masalah/kesulitan.
4.        Membangun  kesetaraan  dalam  hubungan  dan  kedudukan sesuai dengan fungsi masing-masing.

E.     Cara Membuat Keluarga Yang Harmonis dan Bahagia Lahir Batin
            Pria dan wanita yang sudah menikah wajib menjaga keharmonisan dan keutuhan rumah tangga dengan cara yang baik tanpa kekerasan. Oleh sebab itu dari awal memilih pasangan hidup jangan asal pilih saja karena semua itu akan menentukan kondisi rumah tangga kita kelak. Memiliki keluarga yang harmonis dan bahagia adalah impian semua orang.

Keluarga Sakinah


Dalam bahasa Arab, kata sakinah di dalamnya terkandung arti tenang, terhormat, aman, merasa dilindungi, penuh kasih sayang, mantap dan memperoleh pembelaan. Namun, penggunaan nama sakinah itu diambil dari al Qur’an surat 30:21, litaskunu ilaiha, yang artinya bahwa Allah SWT telah menciptakan perjodohan bagi manusia agar yang satu merasa tenteram terhadap yang lain.Jadi keluarga sakinah itu adalah keluarga yang semua anggota keluarganya merasakan cinta kasih, keamanan, ketentraman, perlindungan, bahagia, keberkahan, terhormat, dihargai, dipercaya dan dirahmati oleh Allah SWT.

Awal mula kehidupan seseorang berumah tangga adalah dimulai dengan ijab Kabul, saat itulah segala sesuatu yang haram menjadi halal. Dan bagi orang yang telah menikah dia telah menguasai separuh agamanya.

Barang siapa menikah, maka dia telah menguasai separuh agamanya, karena itu hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi. [HR. al-Hakim].

Sebuah rumah tangga bagaikan sebuah bangunan yang kokoh, dinding, genteng, kusen, pintu berfungsi sebagaimana mestinya. Jika pintu digunakan sebagai pengganti maka rumah akan bocor, atau salah fungsi yang lain maka rumah akan ambruk. Begitu juga rumah tangga suami, istri dan anak harus tahu fungsi masing-masing, jika tidak maka bisa ambruk atau berantakan rumah tangga tersebut.

Mari kita telaah satu persatu masing-masing fungsi suami dan istri tersebut.

Kewajiban Suami
Suami mempunyai kewajiban mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya, tetapi disamping itu ia juga berfungsi sebagai kepala rumah tangga atau pemimpin dalam rumah tangga. Alloh SWT dalam hal ini berfirman:

Laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Alloh telah melebihkan sebagian dari mereka atas sebagian yang lainnya dan karena mereka telah membelanjakan sebagian harta mereka. (Qs. an-Nisaa’: 34).

Menikah bukan hanya masalah mampu mencari uang, walaupun ini juga penting, tapi bukan salah satu yang terpenting. Suami bekerja keras membanting tulang memeras keringat untuk mencari rezeki yang halal tetapi ternyata tidak mampu menjadi pemimpin bagi keluarganya.
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. (Qs. at-Tahriim: 6).

Suami juga harus mempergauli istrinya dengan baik:
Dan pergauilah isteri-isteri kalian dengan baik. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. (Qs. an-Nisaa’: 19).

Barang siapa menggembirakan hati istri, (maka) seakan-akan menangis takut kepada Allah. Barang siapa menangis takut kepada Allah, maka Allah mengharamkan tubuhnya dari neraka. Sesungguhnya ketika suami istri saling memperhatikan, maka Allah memperhatikan mereka berdua dengan penuh rahmat. Manakala suami merengkuh telapak tangan istri (diremas-remas), maka berguguranlah dosa-dosa suami-istri itu dari sela-sela jarinya. [HR. Maisarah bin Ali dari Ar-Rafi' dari Abu Sa'id Al-Khudzri].

Dalam satu kisah diceritakan, pada suatu hari istri-istri Rasul berkumpul ke hadapan suaminya dan bertanya, “Diantara istri-istri Rasul, siapakah yang paling disayangi?” Rasulullah Saw hanya tersenyum lalu berkata, “Aku akan beritahukan kepada kalian nanti.“

Setelah itu, dalam kesempatan yang berbeda, Rasulullah memberikan sebuah kepada istri-istrinya masing-masing sebuah cincin seraya berpesan agar tidak memberitahu kepada istri-istri yang lain. Lalu suatu hari hari para istri Rasulullah itu berkumpul lagi dan mengajukan pertanyaan yang sama. Lalu Rasulullah Saw menjawab, “Yang paling aku sayangi adalah yang kuberikan cincin kepadanya.” Kemudian, istri-istri Nabi Saw itu tersenyum puas karena menyangka hanya dirinya saja yang mendapat cincin dan merasakan bahwa dirinya tidak terasing.

Bahkan tingkat keshalihan seseorang sangat ditentukan oleh sejauh mana sikapnya terhadap istrinya. Kalau sikapnya terhadap istri baik, maka ia adalah seorang pria yang baik. Sebaliknya, jika perlakuan terhadap istrinya buruk maka ia adalah pria yang buruk.

Hendaklah engkau beri makan istri itu bila engkau makan dan engkau beri pakaian kepadanya bilamana engkau berpakaian, dan janganlah sekali-kali memukul muka dan jangan pula memburukkan dia dan jangan sekali-kali berpisah darinya kecuali dalam rumah. [al-Hadits].

Orang yang paling baik diantara kalian adalah yang paling baik perlakuannya terhadap keluarganya. Sesungguhnya aku sendiri adalah yang paling baik diantara kalian dalam memperlakukan keluargaku. [al-Hadits].

Begitulah, suami janganlah kesibukannya mencari nafkah di luar rumah lantas melupakan tanggung jawab sebagai pemimpin keluarga. Suami berkewajiban mengontrol dan mengawasi anak dan istrinya, agar mereka senantiasa mematuhi perintah Allah, meninggalkan larangan Allah swt sehingga terhindar dari siksa api neraka. Ia akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah jika anak dan istrinya meninggalkan ibadah wajib, melakukan kemaksiatan, membuka aurat, khalwat, narkoba, mencuri, dan lain-lain.

Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya. [HR. Bukhari].

Kewajiban Istri
Istri mempunyai kewajiban taat kepada suaminya, mendidik anak dan menjaga kehormatannya (jilbab, khalwat, tabaruj, dan lain-lain.). Ketaatan yang dituntut bagi seorang istri bukannya tanpa alasan. Suami sebagai pimpinan, bertanggung jawab langsung menghidupi keluarga, melindungi keluarga dan menjaga keselamatan mereka lahir-batin, dunia-akhirat.

Tanggung jawab seperti itu bukan main beratnya. Para suami harus berusaha mengantar istri dan anak-anaknya untuk bisa memperoleh jaminan surga. Apabila anggota keluarganya itu sampai terjerumus ke neraka karena salah bimbing, maka suamilah yang akan menanggung siksaan besar nantinya.

Ketaatan seorang istri kepada suami dalam rangka taat kepada Allah dan Rasul-Nya adalah jalan menuju surga di dunia dan akhirat. Istri boleh membangkang kepada suaminya jika perintah suaminya bertentangan dengan hukum syara’, missal: disuruh berjudi, dilarang berjilbab, dan lain-lain.

Perempuan apabila sembahyang lima waktu, puasa bulan Ramadhan, memelihara kehormatannya serta taat akan suaminya, masuklah dia dari pintu syurga mana saja yang dikehendaki. [al-Hadist].

Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasannya adalah wanita shalihah. [HR. Muslim, Ahmad dan an-Nasa'i].

Wanita yang shalihah ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). (Qs. an-Nisaa’: 34).

Ta’at kepada Allah, ta’at kepada Rasul, memakai jilbab (pakaian) yang menutup seluruh auratnya dan tidak untuk pamer kecantikan (tabarruj) seperti wanita jahiliyah. (Qs. al-Ahzab: 32).

Sekiranya aku menyuruh seorang untuk sujud kepada orang lain. Maka aku akan menyuruh wanita bersujud kepada suaminya karena besarnya hak suami terhadap mereka. [al-Hadits].

Sebaik-baik wanita adalah yang menyenangkan hatimu jika engkau memandangnya dan mentaatimu jika engkau memerintahkan kepadanya, dan jika engkau bepergian dia menjaga kehormatan dirinya serta dia menjaga harta dan milikmu. [al-Hadist].


Perselisihan
Suami dilarang memukul/menyakiti istri, jika terjadi perselisihan ada beberapa tahapan yang dapat ditempuh,

Istri-istri yang kalian khawatirkan pembangkangannya, maka nasihatilah mereka, pisahkanlah mereka dari tempat tidur, dan pukullah mereka (dengan pukulan yang tidak membahayakan). Akan tetapi, jika mereka menaati kalian, janganlah kalian mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka. (Qs. an-Nisaa’: 34).

Hendaklah engkau beri makan istri itu bila engkau makan dan engkau beri pakaian kepadanya bilamana engkau berpakaian, dan janganlah sekali-kali memukul muka dan jangan pula memburukkan dia dan jangan sekali-kali berpisah darinya kecuali dalam rumah. [al-Hadits].

Jika kalian merasa khawatir akan adanya persengketaan diantara keduanya, maka utuslah seorang (juru damai) dari pihak keluarga suami dan sorang juru damai dari pihak keluarga istri. Jika kedua belah pihak menghendaki adanya perbaikan, niscaya Allah akan memberi taufik kepada suami-istri. (Qs. an-Nisaa’: 35).

            Demikianlah Islam mengatur dengan sempurna kehidupan keluarga sehingga terbentuk keluarga sakinah dan bahagia dunia-akhirat. Wallahua’lam.

 
Fahrizal Nurjulianto © 2012 | Template By Fahrizal Nurjulianto